Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Kobar, Kibar

Oleh: Imroatul Istiqomah Daun yang jatuh, hijau dan kering Hijau, kuning yang menjadi lambang Nahdlatul Ulama, Ahlusunnah Wal jamaah, mahasiswa menjadi patriot Jauh dari keramaian kota, polusi dan kebisingan Suara adzan yang sangat dekat Bendera kuning hijau, Putih hijau   berkibar setiap waktu di tiup angin tanpa balas jasa Tak satupun yang tidak bertudung melambangkan kesucian dan kemurnian mereka Tempat kecil dan terpencil menjadi tempat mahasiswa dari berbagai penjuru nusantara Burung kecil ikut menikmati tempat kecil ini Tak perlu melukis nama kampus, cukup ukir layaknya mengukir di atas batu Hari yang mulai petang, mentaripun ikut pulang, mata yang mulai redup tak usainya menjadi kelambu penyesalan Ingatlah tentang ikan yang ikut mendoakan Mengabdi!

Do'a dan Rindu

  Oleh: Wardatut Toyyibah Semilir angin perlahan menyapu ragu Sisakan tubuh yang kian membeku Tak tahu menahu dari arti diamku Hanya seuntaian senyum mereka jamu Yang bahkan tak ingin ku lihat Tak lelahkah kau memejam Tak jenuhkah kau mendenga Adakah rasa rindu menyelimutimu Bahkan adakah   kau merasakan jeritan hatiku Bangunlah! lihatlah   dan rasakanlah kehadiranku Meski hanya dengan separuh hati matamu Saat sepertiga malam mulai bernapas Selalu ku tangkupkan kedua tangan menengadah keatas Melayangkan untaian sajak berkepanjangan   tak berkesudahan kepada Sang Maha Atas Tentang kerinduan mendalamku padamu

Kuliah, atau Nikah?

  Oleh: Sherly Rahmadani Hari ini, matahari terlalu bersemangat untuk menampakkan cahayanya, sehingga panas bumi pun terasa begitu menyengat, begitu pula yang dirasakan oleh Aisyah, gadis berjilbab biru yang tengah duduk dibangku tepat dibawah pohon, dengan buku ditangan kanannya, ia menekuni kegiatan membaca, sembari tangan satunya ia gunakan untuk memegang kipas mini elektrik yang diarahkan ke wajahnya. Pikirannya tidak selaras dengan apa yang dilakukannya saat ini, bagaimana tidak? Meski ia terus berusaha untuk memahami isi dari buku tersebut namun pikirannya masih tetap tertuju pada seseorang, Akbar namanya kakak tingkat di Universitas nya yang baru saja mendapat gelar S1. "Aku tidak mau bertele-tele, aku menyukaimu, apakah kamu mau menikah denganku" Ungkapnya ketika Aisyah baru saja meneguk minumannya di sebuah cafe minggu lalu, sepenggal kalimat yang selalu terngiang dalam pikirannya hingga saat ini, dia sendiri bingung dengan kemauanny, dia memang menyukai