Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Berakhir Ricuh, Aliansi Mahasiswa UIJ Diskusi Bersama Rektor

Diskusi Aliansi Mahasiswa brsama Rektor UIJ yang dihadiri beberapa mahasiswa UIJ  dan perwakilan dari pihak rektorat di Aula Ulum pada kamis (22/11) pukul 14.30 Mitra_ Aliansi mahasiswa Universitas Islam Jember (UIJ) melakukan diskusi bersama rektor UIJ di Aula Ulum AA pada Kamis sore (22/11) pukul 14.30.   Diskusi ini berakhir ricuh dan belum ada kejelasan yang pasti atas tuntutan pada aksi yang dilakukan pagi hari pukul 09. Diskusi ini mendapat tanggapan langsung dari Abdul Hadi, rektor UIJ atas tuntutan kekecauan sistem keuangan. Rektor akan memperbaiki sistem keuangan UIJ pada hari itu juga. Sementara untuk biaya tentatif rektor akan berdiskusi terlebih dahulu bersama YPNU dan mengajak perwakilan Mahasiswa. “kami akan berdiskusi terlebih dahulu dengan yayasan h ari m inggu ini,” Jelasnya. Sementara kericuhan terjadi pada saat diskusi membahas kejelasan legaliatas pegawai kampus. Adanya salah satu mahasiswa yang mengutarakan kata “KKN” sehingga meyulut emosi Izul Aslah,

Tuntut Kejelasan Biaya Tentatif, Mahasiswa UIJ Lakukan Aksi

Mahasiswa UIJ berorasipada Aksi Kejelasan Biaya Tentatif  di Halaman Fakultas Agama Islam (22/11/2018) Mitra_ Mahasiswa Universitas Islam Jember (UIJ) menggelar aksi damai di lingkungan kampus UIJ, Kamis (22/11). Aksi tersebut diikuti oleh sejumlah mahasiswa UIJ dengan berjalan dari jembatan timur kampus menuju halaman depan Fakultas Agama Islam dan   berakhir di depan gedung rektorat. Aksi ini dilakukan karena tidak adanya sosialisasi kenaikan biaya tentatif pada mahasiswa khususnya di UIJ. Menururt Andre selaku koordinator aksi, biaya tentatif tidak sesuai dengan yang telah tertera di brosur. “Salah satunya biaya KKN yang di brosur lima ratus ribu naik menjadi tujuh ratus lima puluh ribu, ini belum ada SK tentang kenaikan uang.” Tegasnya Selain itu Andre menjelaskan, ada salah satu perangkat yang tidak tahu tentang masalah kenaikan biaya ini. Hingga saat ini pihak rektorat belum memberikan kejelasan tentang aksi ini dikarenakan Rektor UIJ sedang tidak ada di tempat. “Re

Gunakan Bidikmisi Sebagai Ancaman, Warek I Tidak Membenarkan

Mitra _Beberapa mahasiswa Universitas Islam Jember (UIJ) mendapat ancaman dari kemahasiswaan. Mahasiswa E (samaran, dok. red) menyatakan bahwa dirinya merasa tertekan dengan kebijakan kemahasiswaan. Kebijakan tersebut menwajibkan mahasiswa bidikmisi mengikuti organisasi ekstra maupun intra. Selain itu, kata E setiap ada kegiatan yang diselenggarakan oleh kemahasiswaan, seluruh mahasiswa bidikmisi mendapat ancaman apabila tidak ikut serta. Menurutnya, dalih yang digunakan pihak panitia pelaksana maupun kemahasiswaan adalah dicabutnya bidikmisi. “Kemarin saat even hari santri nasional kami diancam apabila tidak mengikuti, padahal kami juga memiliki kesibukan,” tegasnya saat ditemui, Minggu (14/10). Sementara itu, Achmad Ilyasi Bagian kemahsiswaan menyatakan bahwa mahasiswa bidikmisi harus proaktif pada ranah akademik maupun non akademik. Dia mengatakan, untuk menunjang hal tersebut maka mahasiswa harus mengikuti organisasi minimal satu intra dan satu ekstra. “Itu tertuang dalam perat

Antara Nasib atau Pelit, Terlalu Nyaman Sehingga Eman

Oleh : As’ad Samsul Arifin Rela berdesakan untuk tetap bisa mengikuti perkuliahan Hal yang sangat unik bila di pandang dengan jarak yang tingkat kedekatannya mencapai   8.0x atau bisa disebut (zoom) katakanlah seperti itu. Didalam perkuliahan tentunya ada hak dan kewajiban,   yang mana itu harus terlaksana entah itu dari mahasiswa maupun dosen. Selaku agent of change mahasiswa hendaknya harus peka terhadap kondisi kampus, apalagi terkait pelayanan yang seharusnya ia dapatkan. Menjadi mahasiswa memang tidak seindah dengan kehidupan para dosennya. Terkadang mahasiswa selaku salah satu sumber pendanaan kampus, mendapatkan diskriminasi   dalam hal pelayanan. Seperti contoh kampus kita sendiri, yakni Universitas Islam Jember (UIJ). Dikatakan diskriminasi karena dapat kita ketahui sendiri bahwasanya dari segi tempat mungkin bukan hanya satu, dua orang yang akan berbicara bahwa ruangan para pejabat UIJ jauh   lebih bagus dari pada ruangan mahasiswanya. Padahal yang berg